janjiku....
maafkan aku,
kalau kali ini aku tak bisa tepati,
apa yang telah kujanjikan,
bukan karena apa,
tetapi,
karena aku tak punya hak,
kewenangan apalagi kuasa,
kalaupun ada sangat dibatasi,
ternyata,
setelah aku di dalam sini,
begitu ruwet dan ribet,
apalagi aku,
dengan idealisme,
yang kuandalkan selama ini,
ternyata tak mendapat tempat,
di sebuah sistem yang membelenggu,
maafkan aku,
aku tak bisa berbuat banyak,
ketika aku terkungkung dalam sistem,
dimana aku tak berdaya seorang diri,
maafkan atas janjiku,
janji seperti,
ketika aku pinta dukungan dari mu,
aku tak berdaya,
aku telah ingkar janji,
maafkan aku,
akupun berjanji,
sekali ini saja aku duduk di sini,
di lembaga terhormat negeri ini,
kalau perlu aku segra berhenti,
ntuk menebus janjiku yang tak kupenuhi,
karena kusadar,
bukan hanya dari roti aku bisa hidup,
tapi dari firmanNya yang hidup,
maaf janjiku memang bukan janjimu.
yogya, 02-03-09
ketika membayangkan jadi anggota
komunitas orang-orang terhormat.
Minggu, 01 Maret 2009
Senin, 23 Februari 2009

janji 2
Dia tak pernah ingkar janji,
janjiNya selalu digenapi,
sebagaimana pernah kuminta,
" aku minta padaNya,
setangkai bunga mawar,
sebagai pengharum ruang,
ruang hatiku yang beku dan kelu,
tapi Dia beri aku kaktus yang berduri,
setajam duri kehidupan ini,
dan ketika aku minta kupu-kupu,
yang indah warna warni,
berterbangan di pagi hari,
Dia malah beri aku ulat,
aku kecewa, sedih, dan marah,
bahkan ngambeg,
tak lagi memuliakanNya,
tapi......
aku terhenyak,
terhentak olehNya,
ketika..
di pagi hari yang cerah,
kaktus berduri itupun
berbunga indah merekah,
membuat suasana sumringah,
menawarkan kedamaian,
dan...
ulatpun berubah menjadi kupu-kupu,
yang terbang menari kesana kemari,
sungguh.....
aku tertunduk lesu,
dan lidahkupun kelu,
tak sepatah katapun terucap,
dari mulutku yang senang bicara nista,
aku malu,
aku gembira,
ternyata Dia tak pernah ingkar janji,
dan itulah caranya Dia mengasihi,
mengasihi kita umatNya,
janji itu terbukti,
dan indah pada waktunya....
yogyakarta, 24 -02-2009,
ungkapan syukur atas augerahNya.
janji 1
seandainya aku terpilih,
maka aku akan bangun negeri ini,
pabrik-pabrik modern nan megah,
yang mampu menyerap penggangguran,
dengan gaji tinggi untuk sebuah kesejahteraan,
(aku sendiri bertanya,
apa calon investor mau?
karena sulitnya birokrasi,
dan besarnya biaya siluman,
"higt cost economic"),
aku akan ciptakan swasembada pangan,
dengan produksi melimpah,
dan aku akan berupaya,
sekolah gratis,
periksa kesehatan gratis,
angkutan gratis,
semua serba gratis,
(aku sendiri bertanya dalam hati,
apa iya bisa gratis,
lha wong pipis di terminal aja bayar seribu...),
seandainya aku terpilih,
kuabdikan diri ini untuk negeri tercinta,
aku akan berjuang untuk rakyat,
karena hidup adalah perbuatan,
( sebenarnya aku malu,
karena di lingkunganku sendiri,
di RT aku tak pernah kerja bhakti,
tak pernah meronda,
tak pernah ikut kegiatan,
tak pernah berbuat sesuatu,
tapi demi sebuah cita,
janji ini aku teriakkan lantang,
selantang geledek di musim penghujan),
maka jangan lupa,
contreng aku,
karena aku yang bisa dipercaya,
bersama kita pasti.....,
aku janji deh.....
( ragu aku meneruskannya....)
yogyakarta, 24 Pebruari 2009
seandainya aku terpilih,
maka aku akan bangun negeri ini,
pabrik-pabrik modern nan megah,
yang mampu menyerap penggangguran,
dengan gaji tinggi untuk sebuah kesejahteraan,
(aku sendiri bertanya,
apa calon investor mau?
karena sulitnya birokrasi,
dan besarnya biaya siluman,
"higt cost economic"),
aku akan ciptakan swasembada pangan,
dengan produksi melimpah,
dan aku akan berupaya,
sekolah gratis,
periksa kesehatan gratis,
angkutan gratis,
semua serba gratis,
(aku sendiri bertanya dalam hati,
apa iya bisa gratis,
lha wong pipis di terminal aja bayar seribu...),
seandainya aku terpilih,
kuabdikan diri ini untuk negeri tercinta,
aku akan berjuang untuk rakyat,
karena hidup adalah perbuatan,
( sebenarnya aku malu,
karena di lingkunganku sendiri,
di RT aku tak pernah kerja bhakti,
tak pernah meronda,
tak pernah ikut kegiatan,
tak pernah berbuat sesuatu,
tapi demi sebuah cita,
janji ini aku teriakkan lantang,
selantang geledek di musim penghujan),
maka jangan lupa,
contreng aku,
karena aku yang bisa dipercaya,
bersama kita pasti.....,
aku janji deh.....
( ragu aku meneruskannya....)
yogyakarta, 24 Pebruari 2009
Selasa, 17 Februari 2009
juru sembuh
juru sembuh
sesungguhnya ketika mereka,
berdesak-desakan,
hati ini menjerit,
kenapa mereka lakukan,
memang,
berat beban mereka,
sakit penyakit yang mereka derita,
tak kunjung sembuh oleh terapi medis,
mereka lari ke dhukun cilik,
ponari dengan batu "ajaib",
juru sembuh dadakan,
ponari bocah satu em,
sesungguhnya,
juru sembuh sejati,
telah hadir diantara kita,
Dia yang akan hadir,
di hari penghakiman,
yang telah menanti dengan palu,
dan hukum yang adil,
Dia lah sang juru sembuh sejati,
kepadaNya kita serahkan,
kesembuhan diri dan jiwa.
yogyakarta, 18 - 02- 09
sesungguhnya ketika mereka,
berdesak-desakan,
hati ini menjerit,
kenapa mereka lakukan,
memang,
berat beban mereka,
sakit penyakit yang mereka derita,
tak kunjung sembuh oleh terapi medis,
mereka lari ke dhukun cilik,
ponari dengan batu "ajaib",
juru sembuh dadakan,
ponari bocah satu em,
sesungguhnya,
juru sembuh sejati,
telah hadir diantara kita,
Dia yang akan hadir,
di hari penghakiman,
yang telah menanti dengan palu,
dan hukum yang adil,
Dia lah sang juru sembuh sejati,
kepadaNya kita serahkan,
kesembuhan diri dan jiwa.
yogyakarta, 18 - 02- 09
Selasa, 06 Januari 2009
berilah kami.......

berilah kami......
sepekan sudah hingar bingar cahaya kembang api,
sebagai pergantian tahun kulewati,
asa telah kutebar,
harap telah kugantungkan,
doa pun telah meluncur dari mulutku yang tak henti berucap,
meluapkan rasa batin dan keinginanku kepadaNya,
menyalurkan keinginan dan seolah-olah menodongNya,
agar Dia mendengar dan mengabulkan pintaku,
namun...... sepertinya Dia melupakanku,
dan melemparku kejurang nan dalam,
mengabaikan segala pinta dan doa,
aku ingin menghujatNya,
kenapa....
kenapa Engkau tak mendengarkanku,
tak mengabulkan permohonanku,
katanya Engkau baik hati dan penuh kasih,
mana kasihMu Tuhan??
namun....
tiba-tiba lidahku kelu,
tak seucappun keluar kata,
hatikupun beku,
dan secerah sinar membutakan mataku,
akupun tersadar...
Dia mendengarkanku,
menegurku dengan sapaan lembut penuh kasih,
kataNya: "anakKu belum saatnya...... sabarlah,
dan lakukan apa yang dapat engkau lakukan"
yah.....Tuhan....
ampuni aku...
berilah kami kesadaran dan kesabaran,
berilah kami.....
karena hanya padaMu tempat aku meminta,
dan hanya namaMu yang mengatasi segala nama,
maafkan kami....
ampuni kami Tuhan.
Yogyakarta
pekan I januari 2008
Kamis, 11 Desember 2008
jangan sedih
natal sebentar datang,
jangan engkau bermuram durja,
hanya karena tak bisa beli baju baru,
Dia datang bukan untuk itu,
tapi datang untuk menjamahmu,
untuk menyegarkanmu dan menghiburmu,
jangan sedih,
lantaran tak ada kue manis di tangan,
atau tetangga yang lupa memberikanmu sepiring nasi empal,
Dia datang untuk mereka yang kelaparan,
untuk menyelamatkanmu,
maka,
jangan sedih,
semua yang tak kau punya saat ini,
hanyalah hal yang bakal sirna,
karena duniawi sifatnya,
ada yang lebih berharga dari semua itu,
hatimu,
hatimu yang mampu menangkap bisikan,
bisikan sukacita karena kedatanganNya,
maka jangan sedih,
engkau akan mendapatkan suka cita,
bersamaNya di kemah abadi.
Yogya, jelang natal 2008.
natal sebentar datang,
jangan engkau bermuram durja,
hanya karena tak bisa beli baju baru,
Dia datang bukan untuk itu,
tapi datang untuk menjamahmu,
untuk menyegarkanmu dan menghiburmu,
jangan sedih,
lantaran tak ada kue manis di tangan,
atau tetangga yang lupa memberikanmu sepiring nasi empal,
Dia datang untuk mereka yang kelaparan,
untuk menyelamatkanmu,
maka,
jangan sedih,
semua yang tak kau punya saat ini,
hanyalah hal yang bakal sirna,
karena duniawi sifatnya,
ada yang lebih berharga dari semua itu,
hatimu,
hatimu yang mampu menangkap bisikan,
bisikan sukacita karena kedatanganNya,
maka jangan sedih,
engkau akan mendapatkan suka cita,
bersamaNya di kemah abadi.
Yogya, jelang natal 2008.
Minggu, 05 Oktober 2008
maaf mak, aku tak mudik
maaf mak, kali ini aku tak mudik,
ini kataku untuk kesekian kali setiap menjelang musim mudik,
bukan karena aku tidak rindu kampung halaman,
bukan karena aku tak punya sanak kerabat dan handai tolan,
bukan karena aku tak mempunyai kenangan di kampung halaman,
bukan karena aku tak punya kawan untuk pulang,
bukan,
bukan karena semua itu,
tapi,
karena begitu besar beban kehidupan yang kusandang,
tahun lalu hunian dimana aku numpang berteduh digusur sat pol pepe,
tak terkecuali bekal untuk pulang ikut "terbawa" mereka,
tahun lalunya aku terkena razia ketika lagi ngamen di perempatan jalan,
tahun lalunya lagi aku terkena sakit karena kurang gizi,
dan tahun ini mak, anakmu memang tak punya uang buat oleh-oleh emak, duit yang terkumpulpun berantakan,
padahal selama ini aku katakan pada emak,
aku enak hidup di Jakarta,
sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar,
tapi maaf mak,
semua itu aku sampaikan,
agar emak tidak punya beban berat memikirkan anakmu ini,
sehingga akupun berusaha keras untuk selalu mengirim uang,
sebagai baalas budiku sebagai anak,
agar emak hidup lebih nyaman,
tapi mak,
saat ini aku tidak lagi bisa berbohong,
sesungguhnya anakmu hanyalah bagian dari sampah masyarakat,
(ini kata mereka mak,
pada hal aku korban keserakahan segelintir orang),
yang pernah merebut masa depanku dengan memasukkan aku kedunia gelap,
dengan menjadikanku kurir pergadangan psikotropika,
dunia narkoba yang membuatku terlena,
pengakuan ini aku sampaikan mak,
agar kelak kalau aku dipanggil,
tak ada lagi beban dosa dihatiku,
maafkan mak, maafkan aku,
maafkan
(tak terasa air mataku menetes membasahi pipi,
untuk kali pertama,
setelah selama ini aku terkungkung kehidupan kelam)
yogya, pasca lebaran 2008.
ini kataku untuk kesekian kali setiap menjelang musim mudik,
bukan karena aku tidak rindu kampung halaman,
bukan karena aku tak punya sanak kerabat dan handai tolan,
bukan karena aku tak mempunyai kenangan di kampung halaman,
bukan karena aku tak punya kawan untuk pulang,
bukan,
bukan karena semua itu,
tapi,
karena begitu besar beban kehidupan yang kusandang,
tahun lalu hunian dimana aku numpang berteduh digusur sat pol pepe,
tak terkecuali bekal untuk pulang ikut "terbawa" mereka,
tahun lalunya aku terkena razia ketika lagi ngamen di perempatan jalan,
tahun lalunya lagi aku terkena sakit karena kurang gizi,
dan tahun ini mak, anakmu memang tak punya uang buat oleh-oleh emak, duit yang terkumpulpun berantakan,
padahal selama ini aku katakan pada emak,
aku enak hidup di Jakarta,
sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar,
tapi maaf mak,
semua itu aku sampaikan,
agar emak tidak punya beban berat memikirkan anakmu ini,
sehingga akupun berusaha keras untuk selalu mengirim uang,
sebagai baalas budiku sebagai anak,
agar emak hidup lebih nyaman,
tapi mak,
saat ini aku tidak lagi bisa berbohong,
sesungguhnya anakmu hanyalah bagian dari sampah masyarakat,
(ini kata mereka mak,
pada hal aku korban keserakahan segelintir orang),
yang pernah merebut masa depanku dengan memasukkan aku kedunia gelap,
dengan menjadikanku kurir pergadangan psikotropika,
dunia narkoba yang membuatku terlena,
pengakuan ini aku sampaikan mak,
agar kelak kalau aku dipanggil,
tak ada lagi beban dosa dihatiku,
maafkan mak, maafkan aku,
maafkan
(tak terasa air mataku menetes membasahi pipi,
untuk kali pertama,
setelah selama ini aku terkungkung kehidupan kelam)
yogya, pasca lebaran 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)